“ Kemandirian Itu Adalah Spirit Dari Langit “
Suatu sore penulis berkesempatan mendampingi mahasiswa melakukan MMRW (Musyawarah Masyarakat Rukun Warga), adapun musyawarah tersebut adalah menyajikan data kesehatan hasil pengkajian para makasiswa bekerjasama dengan warga, kader kesehatan serta pemerintahan setempat. Dari hasil data tersimpulkan permasalahan kesehatan yang ada, salah satunya yaitu 50% rumah tangga masih belum mempunyai septitank, mereka masih membuang bab (buang air besar) ke selokan dan sawah, padahal saat ini sedang kemarau, tentu itu sangat tidak sehat berpotensi terjadinya penyebaran penyakit. Ketika ditanyakan tentang alternative solusi dari masyarakat setempat, mereka meminta pihak pemerintah menyediakan MCK untuk warga. Idealnya adalah tiap rumah telah memiliki jamban yang standar. Sebagian usulan solusi, meminta bantuan pada mahasiswa untuk mengkomunikasikan pada pihak penyandang dana dipersilahkan dari mana saja. Lalu kami jajagi potensi masyarakat setempat setelah diidentifikasi potensi setempat didapati: budaya setempat yang mendudkung diantaranya gotong royong, kebiasaan arisan warga, kemapuan ekonomi secara kasar kami observasi sebagian besar warga memilliki motor kami asumsikan biaya kamar mandi sehat dibawah harga motor, hanya soal prioritas, ada indikasi budaya senang dibantu.Menurut pengakuan mereka pihak kesehatan telah memberikan saran agar mereka bergotong royong membuat spiteng satu sepiteng untuk lima rumah, ketika itu sempat mereka menyetujinya bahkan dari petugas kesehatan secara pribadi memberikan uang sebesar Rp.100.000,- sebagai stimulus, faktanya hingga saat ini tak ada tindak lanjut
Konsep penyelesaian masalah yang kami buat adalah menggali potensi kemandirian masyarakat. . Ada dua hal yang kami tarik kesimpulan sementara, yaitu: motivasi masyarakat kurang tergerak karena itu belum dianggap penting (pemahaman yang kurang), berikutnya adalah masih senang menerima bantuan dari pada mandiri, hal ini terindikasi oleh data tambahan oleh salah satu tokoh di sana pada ahir acara, ia menyatakan. " bahwa mahasiswa tidak akan berhasil merubah kondisi itu sampai mahasiswa sendiri mendatangkan bantuan berupa materil untuk menyelesaikannya, bukan sekedar penyuluhan".
Setelah selesai rapat saya memberikan ide pada mahasiswa tentang esensi penyelesaian masalah di masyarakat yaitu memandirikan, dengan menggali potensi mereka. Ada celah yang menjembatani pada masyarakat yaitu melaui ajaran agama yang mereka anut yang kebetulan seluruhnya beragama Islam. Saya sampaikan dalam bahasa motivasi bahwa kemandirian itu adalah spirit dari langit, yaitu ajaran agama, “ tangan di atas lebih baik dari pada tangan dibawah ”, setiap individu dilahirkan sendirian, pada awalnya tergantung lalu kemudian harus mandiri, bahkan nanti kelak jika mati mempertangungjawabkan amalnya sendiri. Allah sudah memberikan bekal berupa pikiran serta bakat atau kudrot irodah, jika seseorang mengembangkan diri sesuai dengan bakatnya kemungkinan besar ia dapat hidup mandiri dan professional. Kebersamaan atau jamaah juga mempersatukan berbagai potensi diri, hingga berjamaah dalam masing-masing potensi diri yang optimal akan lebih kuat dan lebih baik, dengan kata lain setiap orang berperan dan berkontribusi. Tugas profesi yang berorientasi humanisme seperti perawat, dokter, psikolog dan yang sejenis itu adalah mempasilitasi dan menumbuhkembangkan masing-masing potensi individu agar dapat menolong dirinya sendiri dan independen, dalam konsep ke Indonesiaan BERDIKARI (berdiri dengan kaki sendiri). Independen juga adalah sebuah kehormatan dan bentuk syukur yang sebenarnya, Allah telah memberikan kesempatan hidup bagi manusia dengan potensi yang melimpah, langkanya asal mau berpikir dan melakukannya. Demikian saya sampaikan pada para mahasiswa agar mereka dalam menyelesaikan masalh selanjutnya di tingkat Desa kiranya spirit itu disampaikan dengan kemasan yang apik agar menginspirasi mereka dengan sukarela.
Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”
Artinya, dari Abu Ubaid, hamba Abdurrahman bin Auf. Ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, pikulan seikat kayu bakar di atas punggung salah seorang kamu (lantas dijual) lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, entah itu diberi atau tidak diberi,’” HR Bukhari.
Artinya, dari Miqdam, dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Tiada sesuap pun makanan yang lebih baik dari makanan hasil jerih payahnya sendiri. Sungguh, Nabi Daud AS itu makan dari hasil keringatnya sendiri,” HR Bukhari. Mari kita wujudkan program kemandirian pada anak-anak kita. Ajkh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar